Asia

Selayar Island Where The Cows Walking Freely (Part.1)

Perjalanan dari Makassar dimulai pukul 9.30 WITA. Semua bis menuju Selayar berangkat di pagi hari karena hanya ada satu penyebrangan fery dari Bira ke Selayar di sore hari. Bis Aneka yang kami tumpangi mengangkut sekitar 50 orang, belum termasuk barang-barang yang ditumpuk di atas bis dan bagasi. Karena datang terakhir, kami hanya kebagian tempat duduk dari kursi plastik yang diletakkan berjejer di tengah bis. Perjalanan melalui kota Jeneponto, dimana tambak garam tradisional tampak di sepanjang pesisir pantai. Bis berhenti untuk makan siang di bantaeng, lalu melanjutkan perjalanan melewati Bulukumba.

Tidak banyak hal yang bisa kucatat sepanjang perjalanan ini karena hampir sepanjang perjalanan tertidur gara-gara obat yang kuminum. Perjalanan ini tampak singkat karena sepanjang perjalanan selalu riuh di dalam bis, tampaknya orang-orang di dalam bis memang saling mengenal bahkan tak henti bercanda sepanjang perjalanan. Monika, seorang teman asal Selayar yang kukenal di Makassar pernah mengatakan bahwa Selayar adalah pulau kecil sehingga kebanyakan orang di sana saling mengenal satu sama lain. Sayangnya mereka berbicara dalam bahasa Selayar yang tidak kumengerti, namun dari gerak-gerik mereka tampaknya Vaska menjadi topic pembicaraan, karena hanya ia satu-satunya bule di dalam bis. Salah seorang bapak tua yang duduk di sampingku sempat menanyakan tujuan kedatangan kami ke Selayar, kubilang bahwa kami sedang membuat penelitian kecil untuk sebuah tulisan tentang Selayar, terutama tentang Appatanah, sebuah desa di ujung pulau Selayar. Tak disangka, bapak tua ini kemudian membuat sebuah notes yang ditujukan kepada kepala desa Appatanah untuk membantu kami dalam penelitian. Ternyata bapak tua ini adalah salah satu tuan tanah di Appatanah. Tak hanya itu, ia bahkan memberikan alamat rumahnya di Benteng, ibu kota Selayar. Kami dipersilahkan untuk datang kapan saja jika kami membutuhkan bantuan.


Pembuatan kapal di Bira
Pembuatan kapal di Bira

Bis tiba di Bira pukul 16.30 WITA. Tanpa menunggu lama, fery yang sudah berada di pelabuhan langsung mengangkut kami dan beberapa bis lainnya menuju Selayar. Hari ini cuaca sedang baik sehingga fery bisa berangkat tepat waktu. Ketika cuaca memburuk, fery harus menunggu lama hingga cuaca membaik, bisa berjam-jam hingga berhari-hari. Kami menikmati perjalanan di atas geladak kapal, kapten kapal mempersilahkan kami untuk berada di sana sepanjang perjalanan. Matahari terbenam di belakang kami, dan beberapa pulau sudah mulai tampak di sebelah selatan.

Setelah kurang lebih 2 jam, kami akhirnya tiba di pelabuhan Pamatata di pulau Selayar. Bis masih harus meneruskan perjalanan selama satu jam untuk mencapai ibu kota Selayar,Benteng.Begitu kami turun di terminal, aku baru menyadari bahwa pulau ini memang sebuah kota kecil. Terminal bis di Benteng jauh lebih kecil dari terminal angkutan umum di pulau jawa. Tidak ada bis yang nampak selain satu dua bis yang baru saja datang dari Makassar. Kami melanjutkan perjalanan dengan naik pete-pete menuju pantai Selayar.

Sebelum mencari penginapan, kami memutuskan untuk mencari warung makan. Ternyata tidak mudah menemukan tempat makan di sini. Di luar dugaan, tidak ada warung makan yang menjual ikan bakar di sepanjang pantai Selayar. Dengan bantuan seorang pemuda yang sedang nongkrong di pos ronda, akhirnya kami dibawa menuju sebuah warung makan di Jl. Haji Hayyuang, tepat di depan sebuah mesjid yang saat itu ramai oleh orang-orang yang baru saja bubar shalat tarawih. Warung makan ini menjual ayam goreng dan bakar, soto ayam dan ikan bakar. Warung makan ‘Jogja’, begitu tulisan yang tertera di menu makanan yang ditawarkan kepada kami. Di luar dugaan ternyata Bu Sam, sang koki berasal dari kota jogja. Seperti sudah saling kenal lama, kami pun duduk bersama dan mengobrol dalam bahasa jawa. Bu sam dan suaminya sudah 5 tahun berada di Selayar membantu adiknya yang membuka warung makan di sini. Suaminya, Pak Nurhadi baru saja di PHK setelah 18 tahun bekerja di sebuah perusahaan Korea, ketika ahirnya mereka memutuskan untuk datang ke Selayar mencari penghidupan.

Setelah bertanya-tanya tentang hotel di sekitar Benteng, kami mengecek Hotel Selayar Beach yang berada tepat di pinggir pantai. Tempatnya sepertinya nyaman, namun sayang resepsionis hotel tidak cukup ramah menerima kami. Hanya dalam hitungan detik kami sudah dapat merasakan ketidaknyamanan ini. Kami pun memutuskan untuk mencari tempat lain. Ketika kami berjalan, seorang lelaki setengah baya yang menumpang sebuah mobil mewah menghampiri kami dengan ramah, bahkan ia menawarkan tumpangan untuk mencari tempat lain. Lelaki ini adalah lelaki yang kami sempat lihat di Hotel Selayar Beach, mungkin ia adalah pemiliknya. Kami menolak baik-baik dan memutuskan untuk berjalan kaki saja. Akhirnya kami menemukan Hotel Berlian, sebuah hotel yang sempat menjadi kebanggaan pulau Selayar di masa lalu. Kami menyewa sebuah kamar biasa dengan dua bed terpisah. Dinding kamarnya penuh dengan tulisan dan coretan orang-orang yang pernah menginap di sini. Pemiliki hotel, seorang perempuan setengah baya, akan mematikan listrik untuk air setelah pukul 7 malam. Sehingga malam itu kami sempat kelimpungan karena tiba-tiba air mati ketika masih asyik mencuci baju. Akhirnya pekerjaan mencuci harus ditunda hingga keesokan paginya karena tidak dapat membangunkan pemilik hotel yang sudah tertidur untuk menyalakan air.

Sunset di Selayar
Sunset di Selayar

1 Comment

  1. Selayar memang kepulauan yang sementara berbenah… kondisi yg dijumpai sudah lebih bagus dibanding seandainya Anda datang 10 tahun lalu… Yeah, inilah gambaran negeri ini.. negeri yg harus disyukuri & dikritik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up