Desa Nelayan Appatanahh

Rais adalah suami Ratna yang sehari-hari bekerja sebagai nelayan. Ia adalah sukuBajo yang terkenal sebagai suku para pelaut. Rais beberapa kali gagal bercinta sebelum akhirnya menikahi Ratna, seorang perempuan dari suku Bugis yang menganugerahinya 3 orang anak.  Anak pertama dan ketiga meninggal karena sakit ketika mereka masih berumur beberapa bulan, sekarang mereka hidup bertiga dengan anak perempuannya yang berumur 4 tahun. Ketika kutanya sakit apa, keduanya tidak tahu, hanya mengatakan sakit lalu meninggal.  Ada sebuah Puskesmas tidak jauh dari rumah mereka, tapi Puskesmas ini jarang sekali buka karena tidak ada dokter atau bidan yang tinggal di sana. Jika ada warga kampung yang sakit,mereka harus pergi ke Benteng yang jaraknya berjam-jam dari sana. Kebanyakan perempuan, termasuk Ratna terbiasa melahirkan dibantu oleh dukun beranak atau biasa disebut Sanro. menurut Ratna, kebanyakan perempuan di kampung justru takut melahirkan dibantu oleh bidan, mungkin karena kurangnya sosialisasi mengenai kesehatan di sini.
“Seharusnya Sanro digaji oleh pemerintah, karena mereka lah yang membantu kami.” kata Rais. Pernyataan Rais bagiku adalah sebuah pernyataan politis, meskipun Rais tidak menyadarinya. aku sepakat dengan pernyataan Rais, jika pemerintah tidak dapat menyediakan fasilitas dan layanan kesehatan yang memadai di kampung ini, maka seharusnya sanro diangkat menjadi PNS saja.
Sore itu kami menyempatkan berjalan-jalan berkeliling kampung.  Perkampungan nelayan ini dihuni kurang lebih 200 KK, dengan satu sekolah dasar,  Madrasah Tsanawiyah dan sebuah masjid sederhana. Kebanyakan penduduk kampong adalah suku Bajo dan terbiasa menggunakan bahasa Bajo sehari0hari. Rumah-rumah panggung kayu berjejer rapi di sepanjang pantai, sebagian rumah tampak sudah miring. Saya dan Vaska takjub melihat rumah-rumah miring itu masih bertahan dan dihuni oleh penduduk setempat. Di Appatanahh belum ada listrik, listrik yang tersedia hanya menggunakan generator yang dipakai oleh seluruh warga kampung, biasanya akan dipadamkan setiap pukul 10 malam. tidak tersedia juga layanan air bersih untuk mereka, satu-satunya persediaan air yang ada adalah tangki-tangki yang berasal dari mata air terdekat di balik bukit. Bahkan pipa-pipa air yang dibangun di sini pun merupakan bantuan dari PLAN, sebuah LSM internasional.

Hal unik di kampung ini adalah setiap rumah tidak memiliki toilet. di bagian belakang rumah panggung hanya tersedia ruang kecil dengan tong-tong air yang tebuat dari keramik, tampak juga beberapa kompor dan peralatan memasak. Si sudut lain ruangan ini terdapat sebuah tempat tidur. Di bagian lantai terdapat beberapa kayu yang dibolongi yang berfungsi sebagai toilet. Bagian belakang rumah ini berfungsi sebagai dapur, toilet sekaligus tempat mencuci piring. Jadi tidak heran jika ketika memasak, ada bau pesing yang mengganggu.  Itu sebabnya ketika kami berkeliling kampung dan sibuk memfoto sebuah rumah, tiba-tiba dari bagian belakang rumah menyembur cairan berwarna kekuningan yang bau.

Meski begitu, penduduk kampung tidak kehilangan nilai estetik mereka. Interior didalam rumah berwarna-warni, gordyn berwarna pink dengan hiasan bunga mempercantik jendela kayu yang sederhana, bahkan seprai yang digunakan menjuntai oleh renda-renda cantik. hiasan dinding rumah penuh dengan boneka, bunga-bunga plastik dan foto-foto keluarga.
Anak-anak kampung Appatanah

Anak-anak kampung Appatanah

Ada cerita yang lucu dari kampung ini. Menurut Rais dan Ratna, semenjak HP sudah mulai masuk kampung sekitar 2 tahun lalu, angka perceraian meningkat. Hal ini terjadi karena semakin banyak orang yang berkenalan lewat HP lalu berselingkuh. Diam-diam aku tidak terkejut mendengar hal ini, walaupun menjadi sebuah pertanyaan besar kenapa perkenalan lewat HP dan pembicaraan dengan orang asing bisa memicu keharmonisan keluarga yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Apakah karena mereka begitu terisolir dengan orang luar sehingga mengenal orang luar dapat menjadi sesuatu yang sangat menarik bagi mereka. Atau apa?

Setelah puas berkeliling kampung, kamipun mulai menjelajahi pantai di sebelah barat dan timur.  Saat itu air sedang pasang sehingga kami tidak dapat menikmati pasir pantai putihnya.  Akhirnya kami berjalan-jalan dan duduk di dok dermaga. Air laut tampak biru jernih bersambut dengan cahaya matahari sore yang jatuh tepat di bibir pantai. Di sebelah utara tampak bukit dan tebing-tebing. Beberapa speed boat tampak berputar-putar di tengah lautan namun tidak dapat berlabuh di dermaga.

Rumah di AppatanahPuas menikmati pantai timur, kamipun berjalan-jalan di pantai barat menunggu hingga matahari terbenam. Air mulai surut sehingga kami dapat turun ke bibir pantai dan berjalan sepanjang pantai dari barat menuju selatan. Selama hampir satu jam kami menikmati langit yang berubah-ubah warna dari biru, pink hingga jingga. Bahkan tampak pelangi mulai muncul di sebelah selatan matahari yang mulai terbenam. Ketika matahari perlahan terbenam di balik pulau Balluhuang, bersamaan dengan itu bulan sabit muncul di langit yang masih terang, lalu sebuah bintang datang terlambat tepat di atas bulan sabit. Matahari pamit perlahan tepat ketika Rais datang menjemput kami untuk berbuka puasa bersama.Kami lalu pulang dan menikmati  Pallu Basa, ikan bolu goreng dan sayur sop yang telah disiapkan Ratna untuk berbuka puasa.